Seminar Babad Kedhung Kebo Hadirkan Sejarawan dan Pakar Naskah Nusantara

By administrator 21 Agu 2026, 13:09:22 WIB Perpustakaan
Seminar Babad Kedhung Kebo Hadirkan Sejarawan dan Pakar Naskah Nusantara

Purworejo WebDinpusip, — Semarak Festival Literasi 2026 Kabupaten Purworejo terus menghadirkan kegiatan yang tidak hanya meriah, tetapi juga sarat dengan nilai sejarah dan budaya. Salah satunya melalui Seminar Babad Kedhung Kebo yang digelar di Pendopo Wakil Bupati Purworejo, Kamis (20/8/2026).

Dalam seminar tersebut, panitia tidak main-main dalam menghadirkan narasumber. Tiga tokoh yang memiliki kompetensi di bidang sejarah dan naskah Nusantara dihadirkan, yakni Peter Carey, sejarawan asal Inggris; Dr. Sudibyo Praworoatmodjo, M.Hum, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM); serta Dr. Aditya Gunawan, M.A, Ketua Pokja Pengelolaan Naskah Nusantara Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Seminar dipandu oleh Sthepanus Aan Isa Nugroho, SSTP., M.Si, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Purworejo.

Seminar ini menjadi ruang penting untuk menggali kembali Babad Kedhung Kebo sebagai salah satu sumber sejarah yang memiliki keterkaitan erat dengan perjalanan dan identitas masyarakat Purworejo serta kawasan Bagelen. Peserta diajak memahami bahwa naskah kuno tidak sekadar peninggalan masa lalu, tetapi juga menyimpan informasi mengenai sejarah, budaya, nilai kehidupan, serta dinamika masyarakat pada zamannya.

Dalam penyajiannya, Peter Carey menyampaikan bahwa keberadaan Babad Kedhung Kebo penting untuk terus dikaji secara kritis dan ditempatkan dalam konteks sejarah yang lebih luas. Menurutnya, naskah babad perlu dibaca dengan memperhatikan latar belakang penulis, tujuan penulisan, konteks politik dan sosial pada masa itu, serta membandingkannya dengan sumber-sumber sejarah lainnya. Dengan demikian, masyarakat dapat memperoleh pemahaman sejarah yang lebih utuh dan tidak hanya menerima isi babad secara mentah.

Sementara itu, Dr. Aditya Gunawan, M.A menyoroti pentingnya upaya pelestarian dan pengelolaan naskah Nusantara. Menurutnya, naskah kuno merupakan warisan intelektual yang harus dirawat, didokumentasikan, dikaji, dan diperkenalkan kepada generasi muda. Digitalisasi menjadi salah satu langkah penting agar naskah dapat dipelajari secara lebih luas tanpa mengabaikan upaya menjaga naskah aslinya.

Naskah Nusantara bukan hanya benda lama, tetapi merupakan sumber pengetahuan yang merekam pemikiran, kebudayaan, dan kehidupan masyarakat pada masanya. Karena itu, pengelolaan dan pemanfaatannya harus dilakukan secara serius agar pengetahuan yang terkandung di dalamnya tidak terputus kepada generasi berikutnya,” ujar Aditya.

Sedangkan Dr. Sudibyo Praworoatmodjo, M.Hum mengatakan bahwa Babad Kedhung Kebo perlu ditempatkan sebagai bagian dari kekayaan sumber sejarah lokal. Kajian terhadap babad dapat menjadi pintu masuk untuk memahami sejarah Purworejo dan Bagelen secara lebih mendalam, sekaligus mendorong masyarakat untuk semakin menghargai warisan budaya yang dimiliki daerah.

Babad Kedhung Kebo perlu dibaca bukan hanya sebagai cerita, tetapi sebagai sumber yang mengandung berbagai informasi mengenai kehidupan masyarakat pada masa lalu. Untuk memahaminya diperlukan kajian, perbandingan sumber, serta pembacaan yang kritis agar nilai sejarah dan budayanya dapat ditemukan secara lebih tepat,” ungkap Sudibyo.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Purworejo sekaligus moderator seminar, Sthepanus Aan Isa Nugroho, SSTP., M.Si, menyampaikan bahwa Seminar Babad Kedhung Kebo merupakan bagian dari komitmen Pemerintah Kabupaten Purworejo melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan dalam menghadirkan kegiatan literasi yang berkualitas.

Menurutnya, literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan masyarakat memahami, mengkaji, dan mengambil pengetahuan dari berbagai sumber, termasuk naskah-naskah kuno.

Melalui seminar ini kami ingin mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mengenal lebih dekat warisan sejarah dan naskah yang dimiliki Purworejo. Festival Literasi bukan sekadar menghadirkan kegiatan yang meriah, tetapi juga harus memberikan pengetahuan dan pengalaman yang memiliki nilai bagi masyarakat,” jelasnya.

Seminar Babad Kedhung Kebo mendapat perhatian dari peserta yang hadir di Pendopo Wakil Bupati Purworejo. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat gerakan literasi sejarah dan budaya di Kabupaten Purworejo.

Melalui kegiatan ini, Festival Literasi 2026 diharapkan mampu menjadi ruang pertemuan antara masyarakat, akademisi, sejarawan, pengelola naskah, dan generasi muda dalam upaya menjaga, mengkaji, serta menghidupkan kembali kekayaan sejarah dan budaya lokal agar tetap relevan di tengah perkembangan zaman. (Jlitheng)

 




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment